Tidak ada yang meragukan kualitas timnas sepak bola Jerman menjelang berlangsungnya putaran final Piala Dunia 2018. Komposisi tim yang sarat pemain bintang, status juara bertahan, dan prestasi yang baru saja diraih di ajang Piala Konfederasi 2017 menempatkan Jerman pada jajaran tim-tim yang paling diunggulkan memenangi gelar juara Piala Dunia yang akan dilangsungkan di Rusia pada pertengahan tahun 2018 nanti. Namun ada hal yang menarik terkait keberhasilan timnas Jerman menjuarai  Piala Konfederasi 2017, yaitu mengenai kutukan peserta Piala Dunia yang baru menjuarai Piala konfederasi.

Masih jelas dalam memori kita, timnas Brazil yang pada gelaran Piala Dunia 2014 berstatus sebagai tuan rumah dan juara Piala Konfederasi 2013, hancur lebur dilumat Jerman dengan skor 1-7 di babak semifinal. Jerman pun melenggang ke final dan menjuarai Piala Dunia setelah mengalahkan Argentina sekaligus memutus mata rantai kutukan bagi tim-tim Eropa yang tidak akan mampu juara di benua Amerika Selatan.

Nyatanya, Brazil tidak hanya sekali mengalami hal serupa. Pada gelaran paling awal Piala Konfederasi, yaitu tahun 1997, Brazil berhasil menjadi juara dengan materi pemain-pemain bintang, seperti Romario, Bebeto, Roberto Carlos, dan Carlos Dunga. Brazil pun menjadi tim yang paling diunggulkan menjadi juara Piala Dunia 1998. Namun, ketika berlaga di putaran final, Brazil harus puas hanya menjadi runner-up setelah dikalahkan Prancis dengan Zinedine Zidane dan Didier Deschamps-nya di parta final.

Kutukan ini pun berlanjut pada Piala Konfederasi tahun 2005 dan 2009. Brazil berhasil menjadi kampiun dalam kedua gelaran Piala Konfederasi tersebut, namun pada Piala Dunia 2006 dan 2010, Brazil hanya mampu mencapai babak perempat final.

Kutukan ini pun nyatanya tidak hanya berlaku bagi Brazil. Prancis yang menjuarai Piala Konfederasi pada tahun 2001, tidak berhasil bersaing dengan Denmark, Uruguay, dan Senegal di babak penyisihan grup Piala Dunia 2001 yang digelar di Korea Selatan dan Jepang.

Berdasarkan kasus-kasus di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan dengan mengutip Diane Ackerman, bahwa jika ada suatu peristiwa berulang sebanyak tiga kali atau lebih, maka peristiwa-peristiwa tersebut bukan lagi berupa kejadian atau kebetulan, melainkan sebuah pola. Tidak ada juara Piala Konfederasi yang menjadi juara Piala Dunia sejak tahun 1998 hingga yang terakhir, tahun 2014. Pola inilah yang kemudian diyakini sebagai kutukan bagi para juara Piala Konfederasi yang berlaga di Piala Dunia.

Lalu, apakah hal ini menjadi tanda bahwa Jerman akan gagal mempertahankan gelar juaranya di gelaran Piala Dunia 2018?

Melihat sepak terjang timnas Jerman akhir-akhir ini, rasanya bukan tidak mungkin kutukan bagi juara Piala Konderasi itu dapt dipatahkan. Ada dua catatan yang dapat menguatkan pendapat ini. Pertama, Jerman menjuarai Piala Konfederasi 2017 dengan skuad yang terbilang bukan skuad terbaiknya. Hanya ada Julian Draxel, Joshua Kimmich, dan Jonas Hector, yaitu nama-nama yang biasanya berada di starting line-up Joachim Loew, sedangkan lainnya adalah nama-nama yang biasanya menjadi pelapis tim berjuluk Der Panzer ini.

Kedua, Jerman mempunyai tradisi yang baik pada turnamen-turnamen yang diikutinya sejak 2006, baik itu Piala Dunia maupun Piala Eropa. Pada dua gelaran dua turnamen tersebut, Jerman setidaknya selalu mencapai babak semifinal. Hal ini menunjukkan konsistensi Jerman sebagai tim spesialis turnamen.

Selain itu, Jerman mempunyai nilai tambah dengan berhasilnya timnas Jerman U-21 menjuarai Piala Eropa U-21 beberapa saat lalu. Hal ini berarti Jerman memiliki skuad yang super komplit dan bahkan dapat dibagi ke dalam tiga tim yang bisa jadi sama kuatnya, yaitu tim ini, tim pelapis, dan tim muda.

Jadi, tinggal ditunggu saja apakah kuatnya skuad Jerman saat ini dapat mematahkan kuatnya kutukan yang menimpa kampiun Piala Konfederasi yang telah bertahan selama lima gelaran Piala Dunia terakhir atau sebaliknya.