Profil Michael Carrick, Manchester United

profile Michael Carrick pemain MU

Michael Carrick lahir di Wallsend, Tyne and Wear, Inggris pada tanggal 28 Juli 1981. Pria berkebangsaan Inggris ini sekarang memperkuat tim besar Liga Inggris, Manchester United. Carrik saat ini menjabat sebagai wakil kapten dari Manchester United. Berposisi asli sebagai seorang pemain gelandang tetapi karena kebutuhan tim Carrick juga kadang dimainkan sebagai pemain bertahan, ketika di bawah asuhan Alex Ferguson, David Moyes dan Louis Van Gaal.

Carrick mengawali karir sepakbolanya di West Ham United, bergabung dengan tim muda pada tahun 1997 dan memenangi dua tropi FA Youth Cup dua tahun setelah bergabung. Carrik muda sempat dipinjamkan dua kali ke tim lain sebelum debutnya bersama dengan tim utama West Ham United. Saat dipinjamkan ke Swindon Town Carrick mengoleksi 6 penampilan dengan perolehan 2 gol. Sedangkan saat menjalani masa peminjaman di Birmingham dia hanya mencatatkan 2 kali penampilan tanpa saja sekalipun mencetak gol.

Carrick berhasil menembus tim utama West Ham United di musim 2000/2001. Carrick yang banyak menghabiskan musim 2002/2003 dengan cidera sempat terdegradasi ke divisi Championship bersama West Ham United pada musim tersebut. Walaupun tim yang dibelanya terdegradasi ke kasta kedua sepakbola Inggris Carrick memutuskan tetap bertahan disana. Selama berkarir di West Ham United, Carrick mencatatkan lebih dari 150 penampilan di seluruh kompetisi. Tetapi di tahun 2004 dia memutuskan pindah ke klub asal London lain, Tottenham Hotspur setelah gagal dalam babak play-off untuk kembali ke Premier League.

Biaya transfer yang diperkirakan sekitar 3,5 juta poundsterling menjadi agen sbobet pemulus kepindahannya ke White Hart Lane. Selama dua musim membela The Lily White Carrick berkembang menjadi seorang gelandang yang mempuni. Di Tottenham Hotspurs Carrick mencatatkan 75 penampilan serta mencetak 2 gol. Sir Alex Ferguson yang kala itu menahkodai Manchester United tertarik dengan bakat yang dimiliki sang gelandang akhirnya membawanya ke Old Trafford pada musim 2006/2007 dengan biaya transfer £18 juta.

Di bawah asuhan Sir Alex Ferguson performa Michael Carrick menjadi semakin meningkat bersama dengan Setan Merah. Pada musim pertamanya di Old Trafford, Carrick total mencatatkan sebanyak 50 kali penampilan di semua ajang. Permainan konsistennya membuat dirinya menjadi salah satu pemain kunci timnya kala memenangi Premier League di musim 2006/2007. Penampilan apiknya itu sekaligus menjadikannya sebagai pemain yang bermain reguler di tim di musim-musim setelahnya. Dia menjadi salah satu bagian kesuksesan Manchester United saat berhasil memenangi gelar Liga Champions Eropa 2008.

Carrick bermain penuh 120 menit saat mengalahkan Chelsea lewat adu pinalti 6-5 di partai final. Dirinya juga menjadi salah satu eksekutor pinalti di pertandingan tersebut. Manchester United akhirnya memberikan kontrak baru bagi Carrick dengan durasi empat tahun. Setelah kesempatan bermain di awal musim 2008/2009 hilang karena cidera pergelangan kaki, Carrick kembali ke lini tengah Manchester United sampai akhirnya ia menorehkan 43 penampilan di semua ajang kompetisi. Carrick kembali berlaga di final liga Champions Eropa 2010 akan tetapi harus menerima kekalahan dari Barcelona.

Pada Juli 2014, Carrick mendapatkan cidera saat latihan pre-season dan dia harus menepi dari lapangan selama 12 minggu. Carrik melakukan come back pasca cidera saat Manchester United kalah dari Manchester City di derby Manchester dengan skor 1-0 pada 2 November 2014. Carrick membuat 400 penampilan bersama Manchester United pada 2 Januari 2016 ketika mengalahkan Swansea City 2-1 di Old Trafford. Setelah sebelas musim bersama Manchester United, pihak setan merah mempersembahkan laga testimonialnya sebagai bentuk penghormatan kepada sang gelandang pada 4 Juni 2017.

Di karir Internasionalnya, Michael Carrick pertama kali membela tim Inggris U-18 dengan catatan empat kali pertandingan. Carrik juga membela Inggris U-21 serta Inggris B. Sementara di level senior Carrik membuat debutnya pada tahun 2001 dan sudah mengoleksi total 34 penampilan akan tetapi ia belum pernah sekalipun mencetak gol di level Internasional. Selama karir Internasional bersama timnas Inggris Carrick sering tersisih karena kalah bersaing dengan pemain-pemain seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, Paul Scholes, Gareth Barry dan juga Scott Parker di posisi gelandang.

Mourinho Merasa Perlakuan terhadap Pogba Tak Adil

paul pogba ke manchester unitedBanyak orang yang menganggap performa Paul Pogba alami penurunan sesudah ia kembali ke klub lamanya, Manchester United. Performa gemilangnya saat masih bersama Juventus seperti menghilang, karena ia tidak berhasil penuhi harapan para pendukung United. Parahnya, ia juga gagal mengangkat performa MU di musim ini, yang mengakibatkan banyak kritikan pedas ditujukkan padanya.

Satu di antara kritikan yang paling marak yaitu masalah performa yang tak sesuai dengan banderol setinggi langit Pogba. Ya, untuk dapat memulangkan Pogba ke Old Trafford pada musim panas 2016 lalu, MU mesti merogoh kocek dalam-dalam. Transfer Pogba dari Juve ke MU itu ditaksir meraih angka 105 juta euro.

Nilai itu pun membuat Pogba menjadi bandar judi pesepakbola dengan nilai transfer paling tinggi di dunia, melewati rekor transfer Gareth Bale saat dibawa Real Madrid dari Tottenham Hotspur dengan banderol 100 juta euro di tahun 2013 lalu.

Dengan nilai transfer yang tinggi itu, pasti harapan besar diletakkan di pundak Pogba. Kehadiran pemain asal Prancis itu sebenarnya diharapkan dapat menghidupkan kembali MU yang dalam beberapa musim terakhir mengalami keterpurukan dari persaingan papan atas di Premier League. Akan tetapi, banyak para pengamat sepakbola yang berasumsi kalau hadirnya Pogba tak bisa memberi efek penting di kubu United.

Lumrah saja apabila ada pandangan itu, lantaran di tabel klasemen Premier League saja, MU tidak dapat menembus peringkat empat besar, serta mesti terpaku di peringkat enam papan klasemen. Walau tim berjuluk The Red Devils itu bisa meraih final Liga Europa musim ini, akan tetapi nampaknya hal itu masih dirasa belum cukup.

Meski begitu, pelatih MU, Jose Mourinho, mempunyai pandangan lain tentang Pogba. Pelatih berjuluk The Special One itu mengungkap kalau Pogba mempunyai peran yang penting untuk timnya sepanjang musim ini. Kesuksesan MU dalam mendapatkan trofi Piala Liga Inggris serta pencapaian ke final Liga Europa juga dikarenakan peran penting Pogba di lini tengah United.

Mou pun mengungkap kalau orang-orang cuma menilik bagaimana MU menghadirkan Pogba dengan harga yang mahal. Hal itu pun dinilai otomatis membuat harapan melambung tinggi. Pogba dituntut senantiasa bermain mengesankan pada tiap-tiap pertandingannya. Mou sendiri pernah mengatakan kalau banyaknya dana yang dikeluarkan MU untuk memulangkan Pogba memang cukup menjadi beban untuk gelandang berumur 24 tahun itu.

“Saya kira masalahnya hanya harga yang disematkan padanya. Saya berharap di awal musim depan ia bukanlah lagi penggawa yang dihargai paling tinggi. Saya mengharapkan demikian, lantaran tekanannya pasti bakal berpindah pada orang lain.”

Mou mengungkap, kalau seandainya Pogba dihadirkan dengan nilai transfer yang tidak begitu tinggi, tanggapan publik pasti berbalik memberikan pujian pada performanya musim ini. Mantan pelatih Chelsea itu mengatakan kalau performa Pogba dalam tiap-tiap laga yang dijalani senantiasa bermain cemerlang.

Memang tidak di semua laga sempurna, namun Mou menyatakan penampilan gelandang Prancis itu di atas lapangan juga bergantung pada performa tim secara keseluruhan. Menurut dia, ketika MU bertanding dengan bagus, Pogba juga ikut tampil bagus. Akan tetapi jika sebaliknya, Pogba juga tidak dapat bermain lepas.

“Kalau saja transfernya setengah dari nilainya sekarang, seluruh orang pasti akan mengutarakan kalau Pogba adalah pembelian yang luar biasa, dia bertanding menjanjikan dan lebih dari harganya. Namun sayangnya, tiap-tiap orang menginginkan pertunjukan yang sesuai dengan nilai atas transfer sang pemain,” tegasnya.

Harus ada perubahan pola pikir yang dipunyai oleh tiap-tiap orang yang menyukai sepakbola tentang memastikan siapa yang layak mendapatkan sanjungan dalam laga. Demikian kata Mourinho soal pandangan publik tentang Pogba. Mou menilai banyak orang yang berasumsi kalau penggawa yang paling layak dipuji adalah mereka yang dapat menceploskan banyak gol. Padahal itu bukan pandangan yang adil dalam sepakbola.

“Ia bagus dalam melakukan pertarungan di udara, ia juga mempunyai tendangan bebas yang bagus. Kalau Zlatan Ibrahimovic memberikannya izin mengambil tendangan bebas, pasti ia bakal menceploskan beberapa gol lagi. Saya pikir ia mempunyai semuanya,” tegasnya.

Baru-baru ini, Paul Pogba baru saja kehilangan ayah tercintanya. Hal itu pula yang membuatnya absen di laga kontra Southampton tengah pekan lalu. Akan tetapi, Pogba kabarnya akan melakoni comeback di laga terakhir Premier League melawan Crystal Palace dan siap ditampilkan di final Liga Europa 25 Mei mendatang.

Best Captains in Soccer

Captaincy in soccer is extremely underrated, simply because most of the people feel that it is not necessary. Primarily, soccer is driven by team energy and enthusiasm, and a few genius players taking the page. However, very often people realize that without an effective captain, they might not be able to circumvent any problems that come their way. So, it is also highly imperative that a captain not only displays the perfect sense of leadership and experience, but also has an understanding on the diplomacy and the tact to ensure that nothing goes wrong with the squad.

Let’s look at some of the best Captains in soccer of all time

Franz Beckenbauer

Playing for Bayern Munich and then Germany, France Beckenbauer has not only been able to bring about a subtle change in how Captains and looked at in soccer, but has been able to revolutionize creating wonderful strategies when the game begins. He is also regarded as one of the best defenders, and therefore has been able to lead from the front. The best part about Franz is the fact that he was true to his name in remaining a captain that was full of diplomacy and played at the very best of international sbobet levels.

Johan Cruyff

Playing for Ajax and then Holland, this Dutch captain was one of the best in the early 1970s. He is also credited with changing the scene of football forever by introducing total football in the game, be it for his club or for his country. It is the phenomenal leadership of Johan that has led to immense amount of success for the Dutch team, and continues, till this day to provide a sense of fluidity into what was previously known as a very rigid sport.

Roy Keane

More famous for his stint with Manchester United rather than his national side, Ireland, Roy Keane was definitely one of the best Captains at the club level. Not only was he able to bring a lot of silverware for the club, but he had the innate capability of taking on even the most unruly people in his team and turn them into champions. Roy Keane was definitely one of those people that you would want to be your captain, particularly because he had the perfect ability for quality man management and extract the best out of every person in the team.

Paolo Maldini

One of the most charismatic, handsome, and the best person known for his leadership skills, Paolo Maldini was definitely one of those people that had been able to bring forward the essence of captaincy in AC Milan. Nicknamed the captain, he had been able to bring a lot of silverware for the club, although he did not reflect the same amount of success in the World Cup for Italy. This does not in any way step into the popularity that Maldini had been able to bring to his club and to himself with effective captaincy.

Best Soccer Clubs In The World

Soccer is a crazy game, and it has been able to evoke emotions upon people from all generations, and all walks of life. There are people that find themselves to be loyal fans of various football clubs, and the love borders upon craziness sometimes. It is this frenzy that has led to people becoming dedicated to a certain club and loving it for the rest of their lives.

Let’s look at some of the best soccer clubs in the world.

Real Madrid

With immense spending capability, real Madrid is one of the best-known football clubs in the world. Effectively coming into existence in 1902, this club has been able to win a lot of domestic as well as international titles. Till date, it has been able to win the champions league title 10 times, and also has been able to get a lot of famous players to play for them. This Spanish club has definitely been able to make a mark for themselves in the soccer scenario all across the world.

Barcelona

Another famous Spanish club that counts itself as being the breeding ground of some of the best-known players in soccer, Barcelona has been established in the year 1899 and went on to win a number of domestic as well as international titles. It has also been able to make a mark in the soccer scenario with sbobet playing a part in getting a lot of famous soccer players in their fold.

Bayern Munich

Bayern Munich is one of the most successful soccer clubs in Europe, and easily the best club in Germany. It has an enormous fan following, and continues to draw a lot of new people into its fan base every year. It also consist of some of the most well-known players in soccer, and continues to rule the roost in terms of getting dedicated fan following.

Juventus

An extremely popular club in Italy, Juventus is easily one of the best-known soccer clubs that has huge following all across the world. Established in the year 1897, Juventus has not only won an astounding amount of silverware, but continues to do so with the patronage of millions of fans across the world. The club has also been able to bring about a noticeable amount of change in its administration, thereby leading to highly efficient fan -related services.

Manchester United

Also fondly known as the red Devils, Manchester United is one of the richest and the most famous football clubs across the length and breadth of the world. Coming into existence in the year 1878, this club has been able to win a lot of league titles and trophies, while at the same time they have also been able to make their mark in the European league titles. They have also become a successful soccer club by inculcating a lot of famous footballers in their fold, and with efficient managerial services, they have been able to rule the roost when it comes to exposure in the soccer industry.

Jerman Ingin Patahkan Kutukan Juara Konfederasi di Piala Dunia 2018

Tidak ada yang meragukan kualitas timnas sepak bola Jerman menjelang berlangsungnya putaran final Piala Dunia 2018. Komposisi tim yang sarat pemain bintang, status juara bertahan, dan prestasi yang baru saja diraih di ajang Piala Konfederasi 2017 menempatkan Jerman pada jajaran tim-tim yang paling diunggulkan memenangi gelar juara Piala Dunia yang akan dilangsungkan di Rusia pada pertengahan tahun 2018 nanti. Namun ada hal yang menarik terkait keberhasilan timnas Jerman menjuarai  Piala Konfederasi 2017, yaitu mengenai kutukan peserta Piala Dunia yang baru menjuarai Piala konfederasi.

Masih jelas dalam memori kita, timnas Brazil yang pada gelaran Piala Dunia 2014 berstatus sebagai tuan rumah dan juara Piala Konfederasi 2013, hancur lebur dilumat Jerman dengan skor 1-7 di babak semifinal. Jerman pun melenggang ke final dan menjuarai Piala Dunia setelah mengalahkan Argentina sekaligus memutus mata rantai kutukan bagi tim-tim Eropa yang tidak akan mampu juara di benua Amerika Selatan.

Nyatanya, Brazil tidak hanya sekali mengalami hal serupa. Pada gelaran paling awal Piala Konfederasi, yaitu tahun 1997, Brazil berhasil menjadi juara dengan materi pemain-pemain bintang, seperti Romario, Bebeto, Roberto Carlos, dan Carlos Dunga. Brazil pun menjadi tim yang paling diunggulkan menjadi juara Piala Dunia 1998. Namun, ketika berlaga di putaran final, Brazil harus puas hanya menjadi runner-up setelah dikalahkan Prancis dengan Zinedine Zidane dan Didier Deschamps-nya di parta final.

Kutukan ini pun berlanjut pada Piala Konfederasi tahun 2005 dan 2009. Brazil berhasil menjadi kampiun dalam kedua gelaran Piala Konfederasi tersebut, namun pada Piala Dunia 2006 dan 2010, Brazil hanya mampu mencapai babak perempat final.

Kutukan ini pun nyatanya tidak hanya berlaku bagi Brazil. Prancis yang menjuarai Piala Konfederasi pada tahun 2001, tidak berhasil bersaing dengan Denmark, Uruguay, dan Senegal di babak penyisihan grup Piala Dunia 2001 yang digelar di Korea Selatan dan Jepang.

Berdasarkan kasus-kasus di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan dengan mengutip Diane Ackerman, bahwa jika ada suatu peristiwa berulang sebanyak tiga kali atau lebih, maka peristiwa-peristiwa tersebut bukan lagi berupa kejadian atau kebetulan, melainkan sebuah pola. Tidak ada juara Piala Konfederasi yang menjadi juara Piala Dunia sejak tahun 1998 hingga yang terakhir, tahun 2014. Pola inilah yang kemudian diyakini sebagai kutukan bagi para juara Piala Konfederasi yang berlaga di Piala Dunia.

Lalu, apakah hal ini menjadi tanda bahwa Jerman akan gagal mempertahankan gelar juaranya di gelaran Piala Dunia 2018?

Melihat sepak terjang timnas Jerman akhir-akhir ini, rasanya bukan tidak mungkin kutukan bagi juara Piala Konderasi itu dapt dipatahkan. Ada dua catatan yang dapat menguatkan pendapat ini. Pertama, Jerman menjuarai Piala Konfederasi 2017 dengan skuad yang terbilang bukan skuad terbaiknya. Hanya ada Julian Draxel, Joshua Kimmich, dan Jonas Hector, yaitu nama-nama yang biasanya berada di starting line-up Joachim Loew, sedangkan lainnya adalah nama-nama yang biasanya menjadi pelapis tim berjuluk Der Panzer ini.

Kedua, Jerman mempunyai tradisi yang baik pada turnamen-turnamen yang diikutinya sejak 2006, baik itu Piala Dunia maupun Piala Eropa. Pada dua gelaran dua turnamen tersebut, Jerman setidaknya selalu mencapai babak semifinal. Hal ini menunjukkan konsistensi Jerman sebagai tim spesialis turnamen.

Selain itu, Jerman mempunyai nilai tambah dengan berhasilnya timnas Jerman U-21 menjuarai Piala Eropa U-21 beberapa saat lalu. Hal ini berarti Jerman memiliki skuad yang super komplit dan bahkan dapat dibagi ke dalam tiga tim yang bisa jadi sama kuatnya, yaitu tim ini, tim pelapis, dan tim muda.

Jadi, tinggal ditunggu saja apakah kuatnya skuad Jerman saat ini dapat mematahkan kuatnya kutukan yang menimpa kampiun Piala Konfederasi yang telah bertahan selama lima gelaran Piala Dunia terakhir atau sebaliknya.